Gesang pernah menggubah lagu “Caping Gunung” yang melegenda. Begini penggalan liriknya: ….Neng nggunung/ Tak cadhongi sego jagung/ Yen mendhung/ Tak silihi caping nggunung… (Di gunung/ aku beri nasi jagung/ jika mendung/ aku pinjami caping gunung).

Caping gunung adalah penutup kepala yang terbuat dari anyaman bambu.  Dengan topi itu, para petani menghalau panas dan hujan. Orang desa ada yang menyebutnya “buyuk”.

Adalah Emi Komariah,  seorang perempuan pembuat caping gunung dari Desa Plumbon. Dia mendapatkan keahlian membuat caping dari tanah kelahirannya, Magetan, Jawa Timur. Setelah menikah dengan Sri Suyatno, perempuan 2 anak ini, meneruskan keahliannya di Desa Plumbon.

Bahan mentah pembuatan caping gunung adalah sayatan bambu super tipis (iratan).  Untuk 1 batang bambu pipih pilihan, mampu disayat tipis hingga 10 sayatan, dengan ukuran lebar 5 cm dan panjang 50 cm.

Emi sanggup membuat 20 pasang caping gunung yang terdiri dari lapis luar dan dalam, dengan harga mentah untuk sepasang Rp 4.500. Bahan mentah itu kemudian dia setor ke Magetan untuk kemudian dirangkai menjadi caping gunung. Harga caping gunung yang sudah jadi di pasaran berkisar antara Rp. 20.000.


The Indonesian composer and singer, Gesang, has been composing “Caping Gunung,” a  legendary song about mountain hat. Here is  a fragment of the lyrics: … .Neng nggunung / Tak cadhongi sego jagung / Yen mendhung / Tak silihi caping nggunung… (In the mountains / I give rice corn / if it is cloudy / I lend mountain hat).

“Caping Gunung” is a mountain headdress made of woven bamboo. With the hat, farmers dispel from the heat and rain. Some villagers called it “Buyuk”.

Herewith introducing Emi Komariah, a woman’s hat maker from Plumbon village. She gained expertise of making  hat from her homeland, Magetan, East Java. Once married to Sri Suyanto, she continues her  expertise in Plumbon village.

The raw materials of making mountain hat is bamboo, with super thin slice. From  1 selected  flattened bamboo rods, she is able to slice up to 10 incisions sliced thin, with a width of 5 cm and a length of 50 cm.

Emi is able to make 20 pairs of hat mountain consisting of the outer and inner layers, with crude prices to a pair of IDR 4,500 (around USD 50 cent). The raw material is then transported to  Magetan to be assembled into a mountain hat. Price of completed mountain hat in the marketplace is around IDR 20,000 (USD 1,5).

caping-7
Beginilah suasana kerja Emi yang sedang menganyam caping gunung, dibantu anaknya yang duduk di kelas 1 SD. (Photographer: Ethonk TDK)
caping-2
Beginilah cara menganyamnya, dengan bantuan bilah bambu ukuran besar. (Photographer: Hartono Rakiman)
caping-3
Inilah bahan mentah pembuatan caping gunung, berupa sayatan super tipis bambu ukuran lebar 5 cm dan panjang 50 cm. (Photographer: Hartono Rakiman)
caping-4
Dalam sehari, Emi sanggup membuat 20 pasang bahan mentah caping gunung seperti ini. (Photographer: Hartono Rakiman)
Advertisements