Kue kering yang satu ini disebut “Kembang Goyang” karena ketika digoreng cetakan digoyang-goyangkan di atas minyak panas. Bentuk kuenya mengingatkan orang pada perhiasan berbentuk bunga yang biasa dipasang pada rambut atau sanggul konde pengantin perempuan.

Di Desa Plumbon Tawangmangu, kue kering yang terbuat dari campuran tepung beras, tepung terigu, vanili, telur, garam, gula, dan wijen ini, dibuat oleh Mbak Yani. Dia biasa membuat kue ini berdasarkan pesanan. Biasanya pesanan berasal dari sekitar Tawangmangu, tapi kadang-kadang dikirim sampai ke Jawa Timur.

Kue ini aslinya berasal dari Betawi, tapi juga dekat dengan ritual keagamaan. Untuk pemeluk agama Hindu, bisanya kue ini menjadi sesaji di hari saya keagamaan, seperti hari raya Nyepi. Mbak Yani sering mendapat pesanan dari masyarakat Hindu yang ada di Pura Pamecakan atau Pura Pasek, yang berada di lerang Gunung Lawu. Pesanan juga datang dari Astana Mengadeg, tempat Presiden Soeharto dan Ibu Tien dimakamkan.

Untuk tepung ukuran  3 kg bisa  dijadikan 50 bungkus kue Kembang Goyang, dengan harga Rp. 5000 setiap bungkusnya. “Saya memang hanya membuat kue ini berdasarkan pesanan saja. Dalam sehari, saya bisa membuat pesanan hingga 100 bungkus,” pungkasnya.

goyang-1
kemasan kue Kembang Goyang yang siap dikirimkan. (Photographer: Hartono Rakiman)
gooyang-2
Ibunda Mbak Yani yang seringkali turut membantu membuat kue Kembang Goyang. (Photographer: Hartono Rakiman)
goyang-4
Inilah suasana dapur mBak Yani yang cukup sederhana.(Photographer: Hartono Rakiman)

 

Advertisements